A. Pengertian
Birokrasi Secara Etimologi
Birokrasi
yang dalam bahasa inggris disebut bureaucracy berasal dari dua kata yaitu
“bureau” yang artinya meja dan “ cratein” berarti kekuasaan .jadi maksudnya
kekuasaan yang berada pada orang-orang yang dibelakang meja. Sedang kan menurut
kamus besar bahasa Indonesia kata “birokrasi “ artinya sistem
pemerintahan yang di jalankan oleh pegawai pemerintah karena telah berpegang
pada hierarki dan jenjang jabatan , cara bekerja atau susunan pekerjaan yang
serba lamban serta menurut tata aturan yang banyak liku – likunya.
B. Birokrasi Ideal Menurut Weber
Max Weber
sebagai bapak birokrasi mengatakan bahwa birokrasi menjadi elemen penting yang
menghubungkan ekonomi dengan masyarakat. Weber mengajukan sebuah model
birokrasi ideal yang memiliki karakteristik sebagai berikut (dalam Islamy,
2003):
·
Pembagian
Kerja (division of labour)
·
Adanya
prinsip hierarki wewenang (the principle of hierarchi)
·
Adanya
sistem aturan (system of rules)
·
Hubungan
Impersonal (formalistic impersonality)
·
Sistem
Karier (career system)
C. Karakteristik
Birokrasi
Karakteristik
birokrasi yang umum diacu adalah yang diajukan oleh Max Weber. Menurut Weber,
paling tidak terdapat 8 karakteristik birokrasi, yaitu:
1.
Organisasi
yang disusun secara hirarkis
2.
Setiap
bagian memiliki wilayah kerja khusus.
3.
Pelayanan
publik (civil sevants) terdiri atas orang-orang yang diangkat, bukan dipilih,
di mana pengangkatan tersebut didasarkan kepada kualifikasi kemampuan, jenjang
pendidikan, atau pengujian (examination).
4.
Seorang
pelayan publik menerima gaji pokok berdasarkan posisi.
5.
Pekerjaan
sekaligus merupakan jenjang karir.
6.
Para
pejabat/pekerja tidak memiliki sendiri kantor mereka.
7.
Setiap
pekerja dikontrol dan harus disiplin.
8.
Promosi yang
ada didasarkan atas penilaiaj atasan (superior's judgments).
Ditinjau
secara politik, karakteristik birokrasi menurut Weber hanya menyebut hal-hal
yang ideal. Artinya, terkadang pola pengangkatan pegawai di dalam birokrasi
yang seharusnya didasarkan atas jenjang pendidikan atau hasil ujian, kerap
tidak terlaksana. Ini diakibatkan masih berlangsungnya pola pengangkatan
pegawai berdasarkan kepentingan pemerintah.
D. Ciri – ciri Birokrasi
1.
Tugas-tugas
operasi yang sangat rutin yang dicapai lewat spesialisasi
2.
Aturan dan pengaturan
yang sangat formal
3.
Tugas-tugas
yang dikelompokkan kedalam departemen-departemen fungsional
4.
Wewenang
terpusat
5.
Rentang
kendali yang sempit
6.
Pengambilan
keputusan yang mengikuti rantai komando.
E. Kekuatan Birokrasi
1.
Kemampuan
menjalankan kegiatan terbakukan secara sangat efisien
2.
Spesialitas
yang sama di kelompokkan dalam departemen-departemen fungsional
3.
Anggota
mempunyai kesempatan untuk berbicara dalam bahasa yang sama diantara rekan
sekerja mereka
F. Kelemahan Birokrasi
1.
Spesialisasi
menciptakan konflik sub-unit
2.
Tujuan unit
fungsional dapat mengesampingkan tujuan keseluruhan organisasi itu
3.
Birokrasi
hanya bisa efisien apabila karyawannya menghadapi masalah yang pernah dijumpai
sebelumnya
4.
Perhatian
yang berlebihan pada pematuhan aturan
H. Faktor-faktor
yang mempengaruhi birokrasi:
a) Faktor budaya
b) Faktor individu
c) Faktor organisasi dan
manajemen
d) Faktor politik
I. Fungsi dan Peran Birokrasi
1.
Melaksanakan pelayanan publik
2.
Pelaksana pembangunan yang profesional
3.
Perencana, pelaksana, dan pengawas kebijakan.
4.
Alat pemerintah untuk melayani kepentingan masyarakat dan bukan merupakan
bagian dari kekuatan politik (netral)
J. Tujuan Birokrasi
1.
Sejalan dengan tujuan pemerintahan
2.
Melaksanakan kegiatan dan program demi tercapainya visi dan misi pemerintah
dan negara
3.
Melayani masyarakat dan melaksanakan pembangunan dengan netral dan
professional
4.
Menjalankan mamajemen pemerintahan, mulai dari perencanaan, pengawasan,
evaluasi, koordinasi, sinkronisasi, represif, prefentif, antisipatif, resolusi,
dll.
K. Tipologi Birokrasi
1.
Berdasarkan perspektif Otoriter
·
Birokrasi Tradisional
Sumber legitimasinya
adalah waktu, artinya orang yang berkuasa adalah orang-orang yang lebih lama di
dalam birokrasi tersebut.
·
Birokrasi Kharismatik
Sumber legitimasinya
adalah kepribadian yang luar biasa bagi seorang pemimpin yang dilihat secara
personal.
·
Birokrasi Legal-Rasional
Sumber legitimasinya
adalah aturan-aturan yang dibuat untuk mencapai tujuan tertentu.
2.
Berdasarkan Perspektif Keterbukaan
·
Birokrasi Terbuka
Aksesibilitas
masyarakat dapat masuk dengan luas, masyarakat dapat ikut serta dalam proses
pembuatan kebijakan dan masyarakat juga dapat menyampaikan aspirasinya ke
birokrasi langsung.
·
Birokrasi Tertutup
Berdasarkan
kepentingan dan peraturan yang berada dalam birokrasi tersebut, kebijakan yang
diputuskan hanya dilakukan dalam birokrasi dan berjalan hanya berdasarkan
aturan-aturan yang didalamnya.
·
Birokrasi Campuran
Birokrasi yang
mendapatkan aspirasi dari masyarakat tapi tidak bisa masuk secara langsung ke
dalam birokrasi untuk menentukan kebijakan.
L. Peran
Birokrasi dalam Pemerintahan Modern
Michael G.
Roskin, et al. meneyebutkan bahwa sekurang-kurangnya ada 4 fungsi birokrasi di
dealam suatu pemerintahan modern adalah :
·
Sejalan
dengan tujuan pemerintahan.
·
Melaksanakan
kegiatan dan program demi tercapainya visi dan misi pemerintah dan negara.
·
Melayani
masyarakat dan melaksanakan pembangunan dengan netral dan professional.
·
Menjalankan
manajemen pemerintahan, mulai dari perencanaan, pengawasan, evaluasi, koordinasi,
sinkronisasi, represif, prefentif, antisipatif, resolusi, dll.
·
Birokrasi
sering sekali dipandang negatif karena kinerja mereka cenderung menyusahkan
masyarakat. Tidak hanya itu, birokrasi juga dinilai masyarakat sebagai
organisasi yang boros, tidak efisien dan tidak efektif.
·
Masyarakat
berpendapat bahwa birokrasi adalah alat penindas masyarakat miskin dan hanya
membela kepentingan orang kaya. Namun demikian, birokrasi tetap dibutuhkan
masyarakat sebagai penghubung antara negara dan masyarakat. Birokrasi mempunyai
kewajiban melayani masyarakat dan menjadikan masyarakat sebagai
prioritas utama.
M. Peranan Kepemimpinan Dalam Birokrasi
Faktor
penting dalam menentukan keberhasilan reformasi birokrasi adalah peran
kepemimpinan (leadership) bagi upaya perubahan, demikian Lembaga Administrasi
Nasional (LAN).Kegagalan reformasi birokrasi dalam pelaksanaannya lebih
disebabkan oleh kurangnya komitmen, konsistensi dan kredibilitas para
pemimpinnya. Sejalan dengan reformasi birokrasi, saat ini pemerintah telah
banyak melakukan inisiatif untuk mereformasi birokrasi khususnya perbaikan
sistem dan budaya kerja, pengukuran kinerja, penerapan disiplin, optimalisasi
peningkatan pelayanan publik, upaya mengurangi korupsi dan peningkatan
produktifitas kerja dan renumerasi yang memadai.
Namun
demikian upaya-upaya tersebut belum dapat mencapai hasil yang maksimal dan
memuaskan masyarakat.Sudah saatnya reformasi birokrasi diarahkan untuk mengubah
pola lama praktek kepemimpinan yang dilayani ke arah kepemimpinan yang melayani.
Ada tiga
aspek tipe kepemimpinan yang melayani yakni "hati yang
melayani" atau kepemimpinan dimulai dari dalam diri sendiri.
Lalu "kepala yang melayani" atau seorang pemimpin
sejati tidak cukup hanya memiliki hati atau karakter semata tapi juga harus
memiliki serangkaian metode kepemimpinan. Aspek ketiga adalah "tangan
yang melayani" yakni pemimpin sejati bukan sekedar memperlihatkan
karakter dan integritas, serta kemampuan dalam metoda kepemimpinan, tetapi dia
harus menunjukkan perilaku atau kebiasaan pemimpin sejati yang selain fokus
pada duniawi juga fokus pada hal spritual. Artinya seorang pemimpin harus
berempati terhadap apa yang dirasakan bawahan atau rakyat secara luas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar